PENGABDIAN MASYARAKAT DESA PELITA "Peduli Ibu, Balita, Remaja, PTM, Dan Tanggap Bencana" DI DESA SUKEREJO
Pada hari sabtu, 10 Agustus 2024 Prodi Keperawatan Blora Kemenkes Poltekkes Semarang mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Sukerejo, kecamatan kabupaten blora. Kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah kegiatan rutin yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa Kemenkes Poltekkes Semarang yang bertujuan mengedukasi masyakarat. Tema Pengabdian Masyarakat tahun 2024 ini yaitu Desa PELITA "Peduli Ibu, Balita, Remaja, PTM, Dan Tanggap Bencana" tim kali ini yaitu berisikan tiga dosen yaitu bapak Tavip Indrayana, S.Kep., Ns., M.Sc., ibu Sutarmi, MN., dan bapak Warijan, S.Pd., A.Kep M.Kes., serta mahasiswa dari Prodi Keperawatan Blora yaitu, Valentina Febrylianti Gunawan, Denmas Candha Julika, Jihan Maulana Hidayat, Dina Lorenza, Lintang Muhammad Putra, Najwa Ramadhani Budi Sanjaya, Prahananda Nadi Hendrawan, dan Noval Dwi Prasetyo.
Menurut riset BKKBN, Angka Pernikahan Dini di Indonesia menurun, namun seks pra nikah pada remaja meningkat. Hal ini membuat tim pengabdian masyarakat, bergerak untuk memberikan edukasi penting kepada remaja yang ada di Desa Sukerejo, betapa bahayanya seks pra nikah, dan pernikahan dini di kalangan remaja. Seperti yang kita ketahui remaja ada fase "menyala" pada diri manusia, pada fase inilah banyak hal yang ingin kita ketahui, banyak hal yang ingin kita coba, untuk itu sangat bahaya sekali apabila para remaja saat ini tidak mendapatkan pembinaan yang benar. Sebelum tim memberikan materi, tim melakukan pre test /quiz melalui Google Form yang berisikan beberapa pertanyaan mengenai bahaya seks pra nikah, dan bahaya dari pernikahan dini kepada audiens, dan hasil pre test tersebut 18 dari 20 peserta masih belum mengetahui bahaya dari seks pra nikah dan juga pernikahan dini. Setelah melakukan pre test, selanjutnya yaitu pemberian materi dari tim pengabdian masyarakat, materi pertama yaitu tentang apa itu remaja, bahaya seks pra nikah, dan bahaya pernikahan dini. Audiens terlihat sangat memerhatikan dan excited hal ini dikarenakan pengemasan materi dan penyampaian materi yang dikemas sangat menarik dan tidak membosankan. Lalu di akhir sesi materi, tim kembali menyebar Google Form yang bertujuan untuk mengevaluasi apakah audiens benar benar paham atau tidak, dan ternyata hasilnya ialah 20 dari 20 peserta sudah paham bahaya dari seks pra nikah dan pernikahan dini.
Lalu, materi selanjutnya yaitu materi tentang tanggap bencana. Seperti yang kita ketahui, Blora seringkali terjadi bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, dan juga kebakaran. Memang sudah ada yang namanya regu penolong seperti Pemadam Kebakaran, Ambulan, dan lain-lain, namun bukan berarti kita tidak perlu mengetahui apa saja yang bisa kita lakukan untuk memberikan penolongan pertama kepada rekan / orang-orang yang terdampak bencana. Pada materi ini, tim pemateri memberikan materinya diselingi dengan praktik langsung, jadi tidak hanya materi saja namun peserta bisa ikut langsung dalam memperagakan teknik teknik pertolongan yang telah di contohkan pemateri.
Semoga materi yang telah disampaikan oleh tim betul-betul bisa diterima baik dan di implementasikan kedalam kehidupan sehari-hari, dan perilaku seks pra nikah dan pernikahan dini yang ada di Blora kian menurun.
Sekian artikel kali ini, jangan lupa selalu pantau update berita yang ada di Kampus IV Kemenkes Poltekkes Semarang di Blog White Campus atau Media sosial White Campus Region 4.
White Campus Region 4, Berani Berkarya Di Masa Muda, Hidup Pers Mahasiswa



Komentar
Posting Komentar